2 x 45 Menit

2 x 45 menit. Waktu selama itu yang membuat aku rela menghabiskan sepanjang malam hanya untuk menunggu. Rela menunggu hanya untuk menyaksikan kesebelasan kesayangan ku, Inter Milan main. Gak peduli besok masuk kerja (ups masih pengangguran) dan pertandingan berlangsung pada dini hari, akan tetap berusaha untuk nonton. Alarm jam siap menggelegar di kesunyian malam atau bahkan gak tidur alias begadang.

Bagi ku sepakbola dan Inter merupakan sebuah terapi. Memang kadang bisa jadi sesuatu yang membuat bete seharian, seandainya tim yang aku dukung keok. Tapi intinya sepakbola tetap menjadi sebuah bentuk terapi yang efektif. Saat seharian melewati hari yang melelahkan, saat itu juga aku akan tersadar dan kembali bersemangat ketika aku ingat bahwa nanti malam Inter akan bertanding. Tapi di balik itu, sebenarnya ada hal lain yang membuat aku suka sepakbola.

Dari sepakbola aku bisa belajar menikmati sebuah proses dimana aku harus bersabar menantikan hasil yang positif. Itu yang disebut terapi. Tapi sisi lainnya, kadang  bisa melihat bagaimana sebuah permainan sepakbola bukan sekedar dari permainan antara 22 orang di lapangan. Dalam sepakbola bisa melihat bagaimana proses itu dijalankan, dengan segala cara, tujuan, hingga latar belakang yang membuatnya menjadi sebuah bentuk lain dari sebuah pertandingan olahraga biasa.

Menarik, jika kita mau membaca dan memahami lebih jauh buku dari Franklin Foer, yang berjudul Memahami Dunia lewat Sepakbola – kajian tak lazim tentang sosial politik globalisasi. Dari situ bisa melihat sepakbola dan tim sepakbola bukan hanya menjadi sebuah tim olahraga biasa, tapi bisa juga merupakan bentuk dari perjuangan sebuah ideologi, berkaitan dengan konflik yang terjadi dunia ketiga, berkaitan dengan dunia bisnis, sampai ke persaingan ideologi agama!

Sebagian kecil contohnya adalah persaingan klub sepakbola Glasgow Celtic dan Rangers di Skotlandia yang mewakili golongan Katolik-Prostestan, Perang di Serbia lewat Red Star Beograd dan Dinamo, perjuangan kemerdekan sebuah bangsa lewat klub Barcelona, gambaran korupsi di dunia ketiga lewat klub-klub seperti Vasco da Gama di Brasil, hingga persaingan kelas sosial pada awal mula yang terjadi di Milan Italia lewat AC Milan dan Inter Milan.

Hal-hal di atas cuma salah satu faktor saja yang membuat orang menyukai sepakbola. Memang banyak faktor lain, seperti kebintangan seorang pemain, kegairahan penonton dan pertandingannya itu sendiri, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis alias duit. Bisa aja  melihat permainan 2 X 45 metnit itu sebagai sebuah drama pertunjukan yang mengisahkan epic dengan muatan sejarah dan segala latarbelakangnya, sehingga aku kadang sungguh ’terlibat’ baik secara emosional bahkan physical (teriak sampe suara abis, atau pegel2 gara jingkra2, hehehe). Walaupun aku nontonnya dimana, dan yang bertanding juga ada dimana😀

Jika berbicara tim atau klub sepakbola, aku suka Inter Milan. Klub ini merupakan satu dari dua klub sepakboola yang berhome base di kota Milan, Italia utara. Pada awalnya saat masih SD kelas 4 dengar Nama Juventus saat final UCL lawan ajax, karena saat itu mungkin masih liga italia yang disiarin tv nasional. Dengar namanya juventus saja aku sudah gak ‘ngeh’ alias ilfill, saat itu aku jagoin ajax. Ehh tapi yang juara juventus. :(  Diruntun lagi sebelumnya pada tahun 1995-an saat ada tetanggaku yang baek karena dulu anak asuh bapak di ponpes, dia membelikan aku kaos tim italia laennya yaitu kaos AC Milan. Tapi karena tidak ‘ngeh’ juga liat nya dan terlalu besar juga ukurannya tidak aku pakai malahan buat keset,😀 Kemudian aku suka Inter karena  gak demen sama Juventus dan Milan, 2 klub seteru Inter di Italia. Karena yang jelas kelihatan 2 klub itu lebih populer di swaktu itu. Teman-temanku rata2 pada suka Juve ataupun Milan. Dan emang gak salah, karena waktu itu kedua klub memang cukup mampu ‘menarik perhatian’ lewat berbagai gelar yang mereka rengkuh. Beda sama Inter yang waktu itu memble. Memang yang suka inter pasti minoritas, mulai dari aku SD, SMP, SMA dan Kuliah tetep minoritas. Bahkan di kampungku juga demikian.

Kisahnya mungkin sama persis sama yang dialami 2 klub terbesar di Inggris, yaitu Liverpool dan Manchester United. Liverpool cukup banyak dijadikan tim kebanggan bagi mereka yang mungkin saat mudanya menyaksikan kejayaan Liverpool pada dekade 80an. Sedangkan para penggemar MU rata-rata mereka yang mengalami kejayaan MU pada dekade 90an. Memang pendapat ini bisa salah, tapi banyak benernya juga loh😀

Tinggalkan komentar

Filed under Sport

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s