Percaya ga percaya

Awal bulan ini, tepatnya 1 oktober 2010 lalu saat aku selesai dari mencari tempat lokasi tes kesehatan di daerah kusumanegaran Yogyakarta, Hujan lebat pun datang disertai angin kencang. Karena saat itu aku lagi berjalan menuju tempat kosan teman dan tidak bawa payung, akhirnya aku putuskan untuk berteduh disebuah warung nasi karena aku lihat sepanjang jalan tidak ada tempat yang bisa buat berteduh. Dengan pesen hanya teh hangat dan pisang ambon satu biji sudah cukup untuk menumpang berteduh. Tapi karena angin lumayan kencang dan hujan begitu lebat, tetap aja basah baju dan celanaku karena dihempas olehnya.

Dengan sedikit berbincang dengan si ibuk penjaga warung, ngobrol sana sini agar bisa lebih lama numpang berteduhnya.😀 Si ibu menjelaskan tradisi nenek moyang orang jawa ketika terjadi hujan angin seperti itu begitu juga dulu nenekku sering melakukan itu , yaitu

  1. Dengan membuang segenggam nasi ke jalan ( entah filosofi ini apa artinya gak tau ane🙂 ).
  2. Membuang pisau ke jalan ( Yang ini pun aku tidak tahu juga artinya).
  3. Membuang sapu lidi ke jalan ( kalau ini tau karena angin itu ibarat sapu untuk membersihakan kotoran, jadi sapu lidi dibuang agar angin itu kembali ke tempatnya, kata ibu penjaga warung begitu )
  4. Membuang segenggam garam ( ini dimaksudkan karena hujan itu berasal dari laut, dan garam juga dari laut, jadi biar hujan itu kembali ke asalnya yaitu laut ).😀

Beberapa saat kemudian hujan dan angin reda, si ibu tersenyum gembira dan berkata, ” percaya ga percaya kan mas !”. Aku pun tersenyum untuk menyenangkan hati ibu itu, tp aku tidak mau terjebak dalam lingkaran kemusrikan.  Setelah hujan reda, pisau dan sapu lidi diambil lagi oleh ibu tersebut karena untuk ritual selanjutnya jika terjadi seperti itu lagi katanya.

Menurut analisa dan sepengetahuanku selama ini, hujan disertai angin lebat itu memang tidak pernah berlangsung lama, mungkin paling lama 10 menit, dalam masa itu hujan akan tetap terjadi tapi angin akan hilang. Jadi, dikasih ritual seperti itu atau tidak pasti angin akan hilang dengan sendirinya.

Sekarang ini, saat aku tulis ini di jakarta sedang terjadi hujan angin seperti itu, tapi karena masyarakat di sini heterogen tidak aku jumpai ritual seperti itu, tapi aku punya ritual sendiri yang dulu sering diajarkan oleh ibuku ketika hujan angin terjadi, yaitu menyebut asma Allah dengan takbir ALLAHU AKBAR sesering mungkin dan kumandangkan adzan, entah hukumnya bagaimana aku tidak tahu, tp jauh lebih baek daripada ritual seperti di atas.🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Nasihat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s